Senin, 25 Maret 2013

KLASIFIKASI DAN HIRARKI ILMU


Para filosof muslim membedakan ilmu kepada ilmu yang berguna dan tidak berguna. Kateggori ilmu yang berguna mereka masukan ilmu-ilmu duniawi, seperti kedokteran, fisika, geografi, logika, etika, bersama disiplin-disiplin yang khusus mengenai ilmu agama. Ilmu sihir, alkemi dan numerology (ilmu nujum dengan menggunakan bilangan) dimasukan kedalam golongan cabang-cabang ilmu yang tidak berguna.
Al-Farabi membuat klasifikasi ilmu secara filosofis kedalam beberapa wilayah, seperti ilmu-ilmu matematis, ilmu alam, metafisika, ilmu politik, dan terakhir yurisprudensi dan teologi dialektis. Beliau member perincian ilmu-ilmu religious dalam bentuk kalam dan fiqih langsung mengikut perincian ilmu-ilmu ilosofis, yakni matematika, ilmu alam, metafisika, dan ilmu politik.
Sedangkan Al-Ghazali secara filosofis membagi ilmu kedalam ilmu syar’iyah dan ilmu aqlliyah. Klasifikasi Al-Ghazali tentang ilmu-ilmu tersebut ialah sebagai berikut :
1.      Ilmu Syar’iyyah
a.       Ilmu tentang prisip-prisip dasar (al-ushul)
a.       Ilmu tentang ke-Esaan Tuhan (al-tauhid)
b.      Ilmu tentang kenabian
c.       Ilmu tentang akhirat dan eskatologis
d.      Ilmu tentang pengetahuan religious, yaitu :
Al-Qur’an dan al-sunnah (primer), ijma’ dan tradisi para sahabat (sekunder), ilmu ini pun terbagi lagi menjadi dua kategori :
·         Ilmu-ilmu pengantar (ilmu alat)
·         Ilmu-ilmu pelengkap, terdiri dari ilmu Qur’an, ilmu riwayat al-hadits,  ilmu ushul fiqih dan biografi para tokoh.
2.      Ilmu tentang cabang-cabang furu’
·         Ilmu tentang kewajiban manusia kepada tuhan (ibadah).
·         Ilmu tentang kewajiban manis kepada masyarakat,
Ilmu ini juga terbagi lagi menjadi dua kategori yaitu:
a.    Imu tentang transaksi, termasuk qishas.
b.   Ilmu tentang kewajiban kontraktual (berhubungan dengan hokum keduanya).
Sejarah perkembangan ilmu pasca Al-Ghazali mengalami pengaruh yang signifikan. Bahwa pemikiran ilmu di dunia islam cenderung kurang rasionalistik dan lebih selaras dengan pandangan dunia Al-Quran. Oleh karena itu banyak para pemikir dan filosof sesudahnya mengembalikan peran nalar pada posisi seimbang. Seperti Quthb al-Din memberikan klasifikasi jenis ilmu secara garis besar menjadi ilmu hikmat (filosofis) dan ghair hikmat (nonfilosifis).
Bentuk-bentuk pemikiran seperti empirisme, rasionalisme, telah banyak disinggung oleh para pemikir islam sejak awal dengan basis landasan wawasan bahwa sumber pengetahuan Yang Kudus. Namun penyebab perbedaan diantara hal ini adalah adanya concern dan penekanan metodologis, ontologism, dan etis yang memiliki kapasitas yang berbeda dan bersifat relative.
Karena semua bentuk pengetahuan bersifat empiris, rasionalis dan iluminasionis, ketiganya bersumber dari manusia yang bersifat relative. Relativitas itu tidak dari pemikiran, tetapi juga perangkat yang dimiliki manusia dalam memperoleh pengetahuan seperti : pancaindra, akal dan wahyu. Oleh karena itulah hanya adanya wawasan Yang Kudus-lah yang membedakan pemikiran islam dengan barat.
Secara umum ilmu-ilmu yang berkembang dalam sejarah Islam meliputi ilmu Al-Qur’an, ilmu hadits, ilmu tafsir, Bahasa Arab, ilmu kalam atau teologi, fiqih siyasah atau hokum tata Negara, peradilan, tasawuf, tarekat, akhlak, sejarah politik, dakwah islam, sains islam, pendidikan islam, peradilan islam, perbandingan agama, kebudayaan islam, dan lain-lain. Ilmu ieu kemudian berlanjut berkembang dan memiliki cabang masing-masing.
Sejak abad ke-19 dunia islam telah merasakan perbenturan dengan barat, sebagaimana yang disinggung oleh Fazlur Rahman. Bahwa hegemoni barat dengan membawa dengan membawa nilai-nilai sekulernya pun menembus pada sendi-sendi, stuktur ilmu-ilmu islam, seprti pada tingkat teoritis berupa gejala rasionalis buta yang tidak mengindahkan nuansa-nuansa religious, dan akhirnya merambat ke tingkat praksisi berupa westernisasi. (Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, 2007 : 122-129)

1 komentar: