Selasa, 05 Maret 2013

EMPATI



A.    Pengertian Empati
1.      Etimologi
Psikolog Edward Titchener (1867-1927) memperkenalkan "empati" pada 1909 ke dalam bahasa Inggris sebagai terjemahan dari istilah Jerman "Einfühlung" (atau "perasaan menjadi"), sebuah istilah yang pada akhir abad ke-19 adalah di kalangan filosofis Jerman dipahami sebagai kategori penting dalam estetika filosofis.(http://plato.stanford.edu/entries/empathy/)
Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti "ketertarikan fisik") didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain.
Kata empati dalam bahasa inggris (Empathy) ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener sebagai usaha dari menerjemahkan kata bahasa Jerman "Einfühlungsvermögen", fenomena baru yang dieksplorasi oleh Theodor Lipps pada akhir abad 19. Setelah itu, diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Jerman sebagai "Empathie" dan digunakan di sana.(http://id.wikipedia.org/wiki/Empati)

2.      Epistimologi
a.      Edith Stein
Empati adalah pengalaman kesadaran asing pada umumnya.
b.      Heinz Kohut
Empati adalah kemampuan untuk berpikir dan merasa diri ke dalam kehidupan batin orang lain.
c.       CD Batson
Empati adalah perasaan kongruen yang berorientasi pada kesejahteraan yang dirasakan orang lain." Sumber: Batson, C. D. (1994). Mengapa bertindak untuk kepentingan publik? Empat jawaban. Kepribadian dan Psikologi Sosial Bulletin.
d.      Jean Decety
Rasa kesamaan perasaan yang dialami oleh diri sendiri dan lainnya, tanpa menimbulkan kebingungan dan masalah antara dua Individu.
e.       Nancy Eisenberg
Sebuah respon afektif berasal dari penangkapan atau pemahaman kondisi emosional orang lain atau kondisi lainnya, dan mirip dengan apa yang orang lain harapkan untuk merasakan" (2002, hal 135). Empati yang berhubungan dengan emosional tanggapan, altruisme, dan sosialisasi Dalam RJ Davidson & A. Harrington (Eds.).
f.       Martin Hoffman
Sebuah respon afektif yang lebih tepat dengan situasi lain dari satu sendiri" (, 1987 p 48)
g.      Roy Schafer
Empati melibatkan pengalaman batin berbagi dalam dan memahami keadaan psikologis mometary orang lain.
h.      Greenson RR
Untuk berempati berarti untuk berbagi, untuk mengalami perasaan orang lain. (1960, hal 418). Sumber: Sutandar, R. R. (1960). Empati dan perubahan-perubahan tersebut. International Journal of Psikoanalisis.
i.        Carl Rogers
Untuk memahami kerangka internal referensi lain dengan akurasi dan dengan komponen emosional dan makna Yang berkaitan dalamnya seolah-olah adalah menjadi orang lain, tapi tanpa pernah kehilangan" kondisi seolah-olah ". Dengan demikian, berarti merasakan sakit atau kesenangan lain saat merasakan perasaan itu dan untuk melihat penyebab daripadanya saat ia merasakan perasaan itu, tapi tanpa pernah kehilangan pengakuan Bahwa seolah-olah saya terluka atau senang dan sebagainya. "( 1959, hlm 210-211) " Sumber: Rogers, C. R. (1959). Sebuah teori hubungan terapi, kepribadian dan interpersonal, sebagaimana Dikembangkan dalam kerangka berpusat pada klien. Dalam S. Koch (Ed.), Psikologi: Sebuah studi ilmu (Vol. 3, hal 184-256.). New York: McGraw Hill.
j.        Khen Lampert (2005)
Empati adalah apa yang terjadi pada kita dan ketika kita meninggalkan tubuh kita sendiri dan menemukan diri kita baik sejenak atau untuk jangka waktu lebih lama dalam pikiran yang lain Kami mengamati realitas melalui matanya, merasakan emosinya, berbagi dalam rasa sakitnya.
Kapasitas manusia untuk mengenali perasaan tubuh lain yang terkait dengan kapasitas meniru seseorang dan tampaknya didasarkan pada kemampuan bawaan untuk mengasosiasikan gerakan tubuh dan ekspresi wajah orang melihat di lain dengan perasaan proprioseptif menghasilkan gerakan-gerakan yang sesuai atau ekspresi diri.
Empati menurut Abu Ahmadi (2003) ialah kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang ain andaikata dia dalam situasi orang lain tersebut. Karena empati, orang dapat menggunakan perasaannya dengan efektif di dalam situasi orang lain, di dorong oleh emosinya seolah-oleh dia ikut mengambil bagian dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain. Di sini ada situasi “feeling into a person or thing”.
Dalam strategi komunikasi yang paling tepat dengan realitas majemuk dan asumsi perbedaan adalah empati. Seperti simpati, istilah ini pun digunakan dalam arti bermacam-macam. Dalam penggunaan sehari-hari, empati sering didefenisikan sebagai berada pada posisi orang lain; sebagai simpati yang dalam; sebagai kepekaan pada kebahagian bukan pada kesedihan; dan sebagai sinonim langsung dari simpati. (Deddy Mulyana, 2006: 87)

B.     Aspek Spiritual
Menumbuhkan sikap empati merupakan ajaran Islam yang dianjurnkan. Sebab Islam  adalah agama yang mengajarkan kepada pengikutnya untuk selalu merasakan apa yang dirasakan orang lain. Jika ada yang sakit di antara mereka, maka yang lain pun ikut merasakan sakitnya. Jika ada yang kurang beruntung, maka yang lain pun juga bisa merasakan bagaimana menjadi orang yang beruntung.  
Kesadaran empatik ini juga tercermin dari seluruh kehidupan Nabi saw. Penyampai firman Allah ini dalam hidupnya juga telah didesain oleh Allah  untuk bisa berempati dengan semua jenis umatnya. Beliau bisa merasakan hidup orang miskin maupun anak yatim, bisa mengalami beratnya menjadi pekerja, dan juga merasakan suka dukanya orang berharta. Bahkan kepada orang yang tidak mengerti pun Rasulullah saw amat berempati.
(http://hikmah.pelitaonline.com/news/2012/10/12/menumbuhkan-empati#.UPJzTlJNH1U)

C.    Aspek Emosi
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
Penelitian menunjukkan bahwa tidak semua orang mampu merasakan empati, atau emosi orang lain memperhatikan. Jadi, apakah autisme dan sindrom Asperger sering ditandai dengan pengurangan kapasitas untuk empati bagi orang lain?. Ini tidak berarti bahwa orang-orang tidak memiliki perasaan untuk orang lain dapat berkembang. Hal ini bahkan umum bagi orang-orang untuk mengembangkan perasaan yang kuat bagi orang lain sebagai akibat dari salah  membaca emosi seseorang.
Empati adalah sifat yang tertanam dalam pengembangan emosional dan kognitif individu. Penelitian menunjukkan empati yang berkembang sendiri sekitar usia Balita contoh menghibur orang lain pada usia muda. Bahkan balita dapat bermain mempermainkan dari usia itu bahwa mereka bisa menipu orang lain. Keterampilan ini mengharuskan anak tahu apa yang orang lain percaya, sehingga balita bisa memanipulasinya.
(http://www.sarjanaku.com/2012/11/pengertian-emosi-menurut-para-ahli.html)

D.    Aspek Kognitif
Psikologi kognitif adalah salah satu cabang dari psikologi dengan pendekatan kognitif untuk memahami perilaku manusia. Psikologi kognitif mempelajari tentang cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi.
Proses empati dan melibatkan emosi dan kecerdasan yang terkendali. Empati berarti emosi dibawa dalam empaten – seseorang yang memiliki empati – sementara empati kognitif adalah investigasi rasional mengambil tempat untuk mengevaluasi mempengaruhi relevansi dan pentingnya. Switch empati empaten proses antara dua bentuk untuk secara bertahap meningkatkan kesadaran mereka tentang keadaan emosi yang lain.
Empati kadang-kadang dilihat sebagai keterampilan individu atau sifat kepribadian yang penting dalam berurusan dengan orang lain. Empati memainkan peran kunci dalam kecerdasan emosional seseorang.
Menurut analisis yang diwakili khususnya oleh Henry Montgomery adalah bagian dari fenomena empati komponen ini:
a.       Pemahaman – beberapa jenis pemahaman empati yang dibawa ke
b.      Merasa – yang empaten (orang yang merasa empati) mengalami arti konsisten dengan yang lain
c.       Kesamaan dirasakan – empaten merasa diri mereka memiliki kesamaan yang relevan dengan objek empati
d.      Aksi – empati ini diwujudkan dalam dokumen dari empatens halama

E.     Aspek Sosial
Konsep empati tidak hanya digunakan dalam praktik-praktik konseling dan psikoterapi saja, namun juga telah dikembangkan secara masif dalam kajian-kajian psikologi sosial.
Sementara itu, banyak kalangan terutama para peneliti dan mahasiswa yang memiliki ketertarikan mengkaji konsep empati merasa kesulitan menemukan literatur-literatur empati, khususnya dalam bahasa Indonesia.
Istilah (term) ini pertama kali dikenal oleh penulis ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Konseling pada tahun 1995-an. Ketika itu empati diartikan, secara mudahnya, sebagai cara untuk memahami kondisi orang lain, yaitu bagaimana seharusnya konselor memahami keadaan dan permasalahan-permasalahan yang diungkapkan oleh seorang konseli (klien). Ibarat anak yang baru bisa bersepeda terlihat si anak sangat antusias untuk menggunakan berbagai macam gaya bersepeda. Begitu juga para mahasiswa ketika itu, mereka tampak ‘maruk’ menyelipkan istilah-istilah baru yang ditemuinya ke dalam percakapan sehari-hari, termasuk empati. Kadang-kadang istilah “empati” diterapkan secara sembarangan sehingga memiliki pengertian yang aneh dan menggelikan. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman dan penguasaan atas konsep yang digunakan.
Beberapa sumber referensi yang tersedia selama ini hanya sebatas membicarakan empati dalam tataran praktis tanpa mengupas lebih dalam akan sejarah, teori, dan perkembangan-perkembangan konsep tersebut sebagaimana telah dicapai oleh para peneliti empati kontemporer dalam penelitian-penelitian mereka. Maka berdasarkan pengalaman-pengalaman penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan keikutsertaan penulis dalam berbagai diskusi seputar konsep empati, serta dengan harapan agar konsep empati dapat dipahami secara akurat, penulis memberanikan diri untuk menuangkan gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikirannya dalam sebuah buku yang saat ini ada di hadapan anda.

F.     Empati dalam Kesehatan Mental
Empati mencakup respon tersendiri terhadap perasaan orang lain, seperti rasa kasihan, kesedihan, rasa sakit. Empati memainkan peranan penting dalam berbagai bidang ilmu, kriminologi dari psikologi, fisiologi, pedagogi, filsafat, kedokteran dan psikiatri. Dalam empati terdapat rasa keterlibatan emosional seseorang dalam realitas yang mempengaruhi orang lain.
Beberapa studi menunjukkan adanya sifat-sifat yang berhubungan dengan empati pada beberapa hewan bukan manusia, seperti tikus atau primata lainnya. Dalam pengertian ini, bisa dijelaskan bahwa empati berasal dari mekanisme saraf dasar yang dikembangkan selama evolusi.
Kesehatan mental adalah terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa, serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.
Fungsi-fungsi jiwa seperti fikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup, harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu sama lain, sehingga dapat dikatakan adanya keharmonisan, yang menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan (konflik).
Dengan demikian, perubahan-perubahan tidak akan menyebabkan kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Kesehatan yang penulis maksud di sini adalah terwujudnya keserasian antara fungsi kejiwaan serta terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungan yang didasarkan pada keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT serta diarahkan untuk mencapai kehidupan yang bermakna, bahagia dunia dan akhirat.
Pola wawasan yang berorientasi penyesuaian diri berpandangan bahwa kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri merupakan unsur pertama dari kondisi mental yang sehat. Dalam hal ini, penyesuaian diri diartikan secara luas yakni secara aktif berupaya memenuhi tuntutan lingkungan tanpa kehilangan harga diri, atau memenuhi kebutuhan-kebutuhan pribadi tanpa melanggar hak-hak orang lain. Penyesuaian diri yang pasif dalam bentuk serba menarik diri atau serba menuruti tuntutan lingkungan adalah penyesuaian diri yang tidak sehat, karena biasanya akan berakhir dengan isolasi diri atau menjadi mudah terbawa situasi yang melingkupinya.
Pola wawasan yang berorientasi pengembangan potensi pribadi. Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan, kebebasan bersikap dikembangkan secara optimal sehingga mendatangkan manfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Zakiah Daradjat mengatakan bahwa apabila kesehatan mental terganggu dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya. Keabnormalan emosi dan tindakan juga dapat disebabkan oleh terganggunya kesehatan mental. Pada keadaan tertentu terganggunya kesehatan mental dapat menyebabkan orang tidak mampu menggunakan kecerdasannya.
(http://www.rumpunilmu.com/2012/05/konsep-kecerdasan-emosi-daniel-goleman.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar