Kamis, 11 Oktober 2012

Kognisi Dalam Konseling


Kognisi merupakan bagian inteleg yang merujuk pada penerimaan, penafsiran, pemikiran, pengingatan, dan penghayalan atau penciptaan, pengambilan keputusan, dan penalaran. Karena kognisi merupakan factor penting dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku, maka konselor akan terbantu apabila memahami kognisi dan dinamika dasarnya.

Asumsi-Asumsi yang Salah
Asumsi kognitif (hipotesi, keyakinan, konstruk) dibuat oleh orang untuk mengendalikan dan membuat kesan mengenai hidupnya. Tanpa asumsi kognitif, setiap rangsangan yang masuk kedalam kesadaran, akan menjadi kesan yang tidak diketahui dan akan membuat kecemasan besar. Asumsi kognitif dapat benar atau salah dan dapat sesuai atau bertentangan.

Perkembangan
Asumsi yang salah hampir seluruhnya di pelajari, meskipun beberapa teori meyakini bahwa kesalahan asumsi didasari oleh predisposisi biologis. Proses pembelajaran yang menyebabkan asumsi yang salah diperoleh melalui lima cara yaitu:
1.      Melalui pengalaman langsung
2.      Terjadi dengan kejadian seolah-olah megalami sendiri
3.      Pengajaran langsung
4.      Logika simbolik
5.      Miskontruksi hubungan sebab akibat
Di samping itu asumsi yang salah dapat ditimbulkan oleh kesalahan dalam berfikir.hal-hal berikut ini merupakan kesalahan dalam berfikir yang menyabebkan asumsi yang salah:
1.      Generalisasi berlebihan (over generalisation)
2.      Konsep semua atau tidak sama sekali
3.      Pernyataan mutlak
4.      Ketidak akuran semantic
5.      Akurasi waktu

Karateristik
Asumsi yang salah mempunyai beberapa beberapa karateristik dalam hal: dimensi waktu, pola-pola, kesalahan mendasar, asumsi berbahaya dan tidak bebahaya.
Dimensi waktu
Asumsi salah berkenaan dengan masa lalu, sekarang dan yang akan dating. Ada orang yang mempunyai asumsi salah berkenaan dengan masa lalu misalnya: “orang tua saya tidak mencintai saya”. Dengan asumsi itu membuat tidak mau bergaul dengan orang lain karena ia beranggapan orang tua orang tua saja tidak mencintainya apalagi orang lain.
Asumsi salah yang berkenaan dengan masa kini seperti: “saya tidak memiliki kecakapan untuk bekerja”. Dengan asumsi itu ia mencari perkerjaan yang gambang dan di luar minatnya. Selanjutnya asumsi salah yang berkenaan dengan masa yang akan dating misalnya: “kala saya menikah nanti pasti saya tidak akan bahagia”. Asumsi itu muncul karena melihat ibunya yang sudah tiga kali bercerai.
Setiap asumsi dapat terlihat signifikan akan tetap menimbulkan kecemasan dan ketidakbahagiaan dalam hidup. Alam beberapa kasus, orang yang mempunyai ketiga macam asumsi salah itu pada akhirnya dapat melumpuhkan dirinya sendiri.
Pola-pola asumsi salah
Orang yang mengikuti konseling akan dipengaruhi oleh asumsi salah yang secara signifikan akan menghambat hidupnya sendiri sehingga akan membatasi gerak hidupnnya. Asumsi salah dikelompokkan ke dalam kategori dalam bentuk yang berjenjang.
Hal yang mendasari kekurangan
Asumsi salah sealu dapat ditelusuri ke belakang berkenaan dengan kekurangan yang ada dalam dirinya. Untuk alas an ini asumsi salah tidak saja sebagai indicator masalah yang dihadapi seseorang, akan tetapi juga sebagai indicator alasan kekurangmampuan orang dalam menyesuiakan diri mencapai kebahagiaan.
Asumsi berbahaya dan tidak bebahaya
Semua asumsi negative tidak selalu menimbulkan gangguan psikologis asumsi salah yang berbahaya dapat berupa ucapan, misalnya: “semua orang yang kukasihi harus mencintai saya”. Asumsi yang tidak berbahaya dapat dilihat dalam kalimat: “saya menikahi seseorang yang terbaik yang pernah kucintai”.

Beberapa Pertimbangan Bagi Konselor
Dalam menghadapi klien dengan kasus asumsi salah, ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan bagi konselor antara lain:
1.      Kesabaran. Konselor harus memiliki kesabaran yang baikdalam menangani klien dengan kasus asumsi salah.
2.      Reaksi yang tidak membantu. Konselor hendaknya menunjukan reaksi yang sedemikian rupa agar dapat membantu klien.
3.      Emosi. Konselor harus memahami bahwa walaupun masalahnya adalah kaitannya dengan kognisi, akan tetapi tidak boleh menngabaikan keterkaitannya dengan factor emosional.
4.      Asumsi yang tidak disadari. Asumsi salah yang paling merusak adalah asumsi yang seringkali tidak disadari oleh klien dan sangat percaya bahwa asumsi itu benar.
5.      Validitas. Konselor harus menyadari bahwa tidak semua asumsi itu salah. Oleh karena itu konselor harus mampu menelaah secara hati-hati dan mempunyai bukti yang cukup untuk membuktikan bahwa asumsi itu salah.
6.      Berbagi asumsi. Dalam konseling konselor dapat berbagi pengalaman bersama klien dalam hal kesamaan asumsi. Menyembunyikan asumsi.
7.      Menyembunyikan asumsi. Dalam konseling konselor akan mendapatkan klien yang berusaha menyembunyikan asumsinya yang salah dan berusaha untuk menghindari adanya upaya untuk mengungkapkannya. Meskipn demikian klien ada kemungkinan memanifestasikan sesuatu yang kurang baik sebagai efek dari asumsi yang salah.
8.      Menghilangkan asumsi. Konselor tidak dapat membuat alasan, bukti, atau bicara dengan klien di luar asumsi salah. Konseling harus secara terus menerus menyajikan bukti asumsi salah sampai klien tidak dapat membantunya.
9.      Melibatkan konselor dalam masalah. Konselor dapat berperan sebagai bagian integral dari asumsi salah dari klien dalam dua cara yaitu: pertama konselor dapat menjadi sasaran asumsi salah dari klien, kedua klien dapat memproyeksikan asumsi salahnya kepada konselor.
10.  Membuktikan asumsi salah. Klien dalam konseling dapat memanipulasi dengan membuktikan bahwa asumsinya benar. Dalam hubungan ini konselor harus berhati-hati dan mampu mengajak klien agar tidak terpengaruh oleh keinginan klien. Peran konselor ialah mengajar klien bahwa tidak ada peristiwa yang tidak dapat dielakan yang mennyebambkan bencana.
11.  Kenyataan yang baru. Perubahan dari asumsi salah menjadi asumsi benar tidal selalu perlu dan secara otomatis membawa kompetisi psikologis untuk menemukan kenyataan baru. Konselor harus tetap mencoba mengurangi semua asumsi salah lewat proses terapi dan kemudian membangun kembali asumsi-asumsi yang benar. (Muhammad Surya, 2003: 75-85)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar